Tampilkan postingan dengan label Fiksi-ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi-ku. Tampilkan semua postingan

Aku Tahu, Kamu? #2

“Aku nggak minta kamu untuk mengunjungi aku saja Nan, aku hanya memberi jalan. Diantara teman-teman seperjuangan, kamu yang paling kelihatan menghilang. Kamu nggak pernah muncul di grup, padahal hampir tiap hari kamu online. Nggak pernah menghubungi lebih dulu kalau nggak dihubungi.”
“Kamu tahu nan, kalau kamu mau ke sini. Banyak yang mau nemuin kamu. Teman-teman banyak yang berdomisili disini. Atau kita bisa mengunjungi yang lainnya, Grefi dan Wulan yang sekarang di Mojokerto, Rizal di Sidoarjo, Kita bisa lanjut ke Pasuruan untuk mengunjungi Arina, kita juga bisa main ke Malang, disana ada Yusuf, Anggi, Anwar, Mala, dan aku yakin ada banyak teman kamu lainnya disana...”
“Raka, Raka... dengerin aku, biarkan aku ngomong sekarang... semua udah berubah, kita punya kehidupan masing-masing, urusan kita udah beda-beda. Kamu nggak bisa seenaknya buat rencana seperti itu.”
“Iya, oke, aku minta maaf aku belum bisa mengunjungi kamu dan teman-teman lainnya, tapi jangan kira aku sudah melupakan kalian. Suatu saat aku pasti akan mencari dan mengunjungi kalian, tapi aku belum dapat waktunya. Pertemuan bukan jalan satu-satunya untuk tetap menjalin persahabatan, dunia sudah canggih, nggak pernah ketemu bukan berarti pertemanan putus gitu aja, lagi pula kalau Tuhan belum mentakdirkan kita untuk ketemu, kita juga nggak bisa maksa, Ka....”
Aku membela diri, aku lelah mendengar ocehan Raka yang sedikiti demi sedikit mulai memojokkanku. Aku mulai mendeteksi hal aneh pada diri Raka kali ini. Hari ini memang tidak biasa, Raka membahas diriku. Jika biasanya dia meneleponku lebih dulu untuk membahas perempuan-perempuan di sekitarnya, membicarakan tentang pekerjaannya, membicarakan tentang hobinya, membicarakan tentang kesehariannya tanpa sedikitpun bertanya bagaimana dengan diriku. Kali ini Raka membicarakanku.
“Tapi Nan...” Raka seperti mau menyangkal.
“Raka, kamu ini kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu jadi mengurusi aku? Kemana perempuan-perempuan yang selalu menemani kamu? Kenapa hari ini nggak kamu ceritain ke aku? Kamu sudah taubat? Aku pikir kamu tahu aku, Raka... ternyata Cuma sampai disini kamu tahu?”
“Harusnya aku tahu kenapa kamu menjudge aku seperti tadi, karena disetiap obrolan kita via telepon selama empat tahun ini kamu nggak pernah tanya gimana aku, kamu selalu tanya ‘nan menurutmu gimana?’ ‘nanda, tahu nggak sih’ ‘nan, aku minta pendapat’ selalu gitu kan, Ka? Coba kamu ingat-ingat, pernah nggak kamu tanya aku ‘gimana ceritanya kamu bisa bla bla bla’ ‘kamu ada rencana apa nan?’ atau sekedar ‘kamu baik-baik aja kan nan?’ nggak pernah kan, Ka? Oke, aku memang Cuma teman kamu, Ka, jadi aku nggak berhak menuntut apa-apa. Ternyata semua memang udah berubah ya, Ka... Pertemuan kita yang Cuma dua kali selama empat tahun ini nggak ada artinya ternyata, dan begitu kamu masih mau ngeyel minta aku buat nengokin kamu disana? Aku punya kerjaan lain Ka, prioritasku sekarang beda kayak dulu, aku....”
“Nanda, aku mau menikah.” Dengan tenang Raka memotong pembicaraanku yang penuh emosi. Satu kalimat, dengan suara yang merdu, tenang, aku merindukannya. Tapi... apa yang dia katakan? Menikah? Aku diam, Raka tak bersuara. Telepon masih tersambung.
Hening.
“Raka, kamu... serius?” Suaraku bergetar, memberanikan diri membuka kembali percakapan.
“Iya, Nan... aku udah menemukannya. Kamu benar, aku bertaubat.”
“Kapan?” “Awal tahun depan...”
“Well, selamat ya... akhirnya, kamu mendahuluiku, dasar berandal! Hahaaa” Aku berusaha mencairkan suasana. Melupakan perdebatan panjang dan pembelaan diri yang beberapa saat lalu terjadi padaku dan Raka.
“Hahhahaha... sorry ya, Nan...” Raka tergelak.
Oh, jadi Raka sudah menemukan belahan jiwanya? Pantas saja tidak dia ceritakan padaku. Pasti perempuan itu 180 derajat berbeda dengan perempuan-perempuan berpaham kemewahan yang dia ceritakan padaku selama ini. Semoga.
“Well, kamu serius mau ngajak aku mengunjungi teman-teman kalau aku ke Surabaya, Ka?” Kataku kemudian.
Ya, aku labil. Tak apa, sebelum Raka bergelar pria beristri. Lagi pula dia yang menawari bahkan memaksaku untuk mengunjunginya, mungkin dia punya pikiran yang sama. Bernostalgia sebelum dia menjadi suami orang.
“Of course, Nan. Jadi?”
“Seminggu sebelum puasa, siapkan semuanya. Kita hubungi teman-teman. Tunggu aku di Surabaya ya Ka.”

Aku Tahu, Kamu? #1

“Halo...” Aku mengangkat telepon, itu dari Raka, sahabatku. Dia sedang waras, makanya meneleponku.
“Halo, Nan... lagi ngapain?” Tanya Raka dari seberang. Suaranya renyah, benar, dia sedang waras. Sedang tidak berurusan dengan perempuan-perempuan itu.
“Nelpon.” Jawabku singkat.
“Kamu nggak tanya kabarku, Nan?” I have known, Raka. Kamu akan selalu baik-baik saja. Kecuali jika kamu tidak menghubungiku lebih dari dua bulan. Baru aku akan bertanya bagaimana kabarmu.
“Pasti baik kan? Aku juga baik kok, Ka.” Kemudian aku tertawa, sepihak. Raka diam. Is he okay?
“Ka... Raka... kenapa, hei?” Aku memanggilnya, memastikan dia baik-baik saja.
“Nan, kamu nggak kangen apa sama aku?” Deg! Haruskah aku jawab? Kalau aku boleh bohong, aku akan jawab tidak. Raka, empat tahun setelah kita berfoto bersama di halaman gedung Soetardjo dengan mengenakan toga ketika hari pengukuhan itu, kita hanya bertemu dua kali. Bagaimana mungkin aku tidak kangen? Semuanya begitu cepat brubah setelah hari itu.
“Kangen lah Ka... kenapa sih kamu?” Jawabku, akhirnya. Semoga detak jantungku yang makin cepat ini tidak terdengar oleh Raka disana.
“Hahahahaa...” Kudengar Raka tertawa. Apa-apaan dia? Kenapa dengan bocah ini?
“Nanda... Nanda... aku kangen kamu tauuukk. Kangen pakai banget nget. Balik kampung dong Nan, liburan gitu, terus tengokin aku di sini. Kamu betah banget di Bandung? Ada apa sih di sana? Jangan-jangan kamu udah dipinang orang sunda ya?...” Kalaupun aku balik kampung, apa kamu bakal datang ke kampungku yang notabene masih lima jam perjalanan dari tempatmu berada sekarang, Ka? Pikirku dalam hati.
“Ya kan kamu tahu aku di sini ngapain, Ka... kalaupun benar aku dipinang, kamu pasti jadi salah satu the big five orang yang aku kabari lebih dulu...”
Raka memotong pembicaraan.
“Inget umur, Nan... kamu tuh harusnya sekarang udah nenteng anak kemana-mana, kesana-sini ditemenin suami, nggak kayak sekarang, melancong kemana-mana sendirian. Habis lulus tiba-tiba balik kampung nggak ada kabar, tahun depannya udah di Lombok aja, pas aku tugas di Bandung kamu malah kerja di Surabaya, sekarang pas aku udah menetap di Surabaya kamu malah ngacir ke Bandung. Pakai acara kuliah pula. Nan, sekarang teman-teman seumuran kita udah pada sibuk ngurus keluarga, eh kamu malah sibuk ngurus proyeeek mulu, ngurus kuliah mulu, kenapa nggak dari dulu aja sih kamu kuliahnya?”
Yah... If I could, Ka... aku juga maunya begitu. Kamu emang hobi amnesia deh kalo soal ceritaku.
“Duh, nggak usah bawel deh, Ka. Aku kuliah lagi gini juga ada alasannya kali, berapa lama sih kita nggak ngobrol bareng...”
Belum sampai aku mengutarakan pembelaan diri, Raka memotong lagi.
“Kamu pasti putus asa ya, Nan? Kamu bilang kamu pengen banget ambil program master di Belanda? Eh malah nyasar di Paris, Paris van Java. Hahaha... Nanda... Nanda... Eh tapi kamu belum cerita ke aku lho gimana bisa kamu ikut short course ke Aussie 4 bulan lalu Nan?...”
“Basi ah, udah lama...” Aku bersungut kesal karena perkataan Raka barusan.
“Cieee... ngambek kamu, Nan?”
“Nggak.”
“Jadi?”
“Apa?”
“Kapan kamu mau balik kampung, Nan? Sebentar lagi kan puasaan, kamu balik kan? Atau Lebaran? Habis lebaran kamu ambil cuti kerja aja Nan, sounds cool, huh? Nanti kamu ke Surabaya ya? Atau gimana kalau kita ke Jember? Reunian sama teman-teman Nan... Ya kalau teman-teman nggak bisa, kita bisa nostalgia berdua di Jember.”
Raka mulai bicara sesuatu yang tak jelas juntrungannya, kenapa dia?
“Nggak bisa kali, Ka...”
“Bisa, Nan... pasti bisa. Kamu kerja ngurusin apa sih? Rasanya sibuuuk terus, tapi sibukmu nggak beralasan Nan, bukan alasan mengejar materi, bukan alasan karir, aku tahu itu. Aku tahu paling nggak sebulan sekali kamu masih sempat keluar kota mengunjungi tempat-tempat baru yang belum kamu kunjungi, mengunjungi teman-temanmu, relasimu, dengan teman-teman baru di lingkunganmu sekarang.“ “Aku tahu, setiap akhir minggu kamu masih sempat mengunjungi perpustakaan, atau persewaan buku, atau warung kopi, atau kafe, menghabiskan waktumu disana setengah hari dengan fiksi-fiksi itu. Tapi kamu nggak pernah sedikit pun meluangkan waktu buat teman karibmu, Nan... kamu menghilang dari lingkaran teman-teman seperjuanganmu...”
Raka mengoceh tak jelas, mungkin itu sebuah omelan untukku, aku tidak tahu kenapa begitu. Tapi nada suaranya tak berubah, masih renyah, tidak terdengar ada emosi buruk disana.
“Raka... apa maksud kamu?...”
Raka kembali memotong. Tidak seperti biasanya.

The Silent Al

Siang itu matahari bersinar cukup kuat, panasnya menyengat. Yul sedang menikmati es teh di beranda belakang rumahnya bersama adiknya, Nev. Ini hari minggu, waktunya Yul untuk bermalas-malasan setelah 6 hari sebelumnya tenaga dan pikiranya terkuras di tempat kerja. Sedang asyiknya bersantai, ibunya memanggil. Suara beliau menggema dari ruang tengah, semakin jelas, mendekat ke telinganya. Yul segera bergegas menghampiri sumber suara.
“Dicari temenmu itu lho, Yul.” Kata ibunya.
“Siapa bu?”
“Tuh liat aja.” Ibunya lalu melenggang ke dapur untuk membuatkan minum.
Yul melongok kearah teras, seorang laki-laki tengah duduk di kursi teras depan. Itu Fath, teman semasa SMA nya. Yul kaget. Segera dia merapikan penampilanya dan ke depan menemui Fath.
“Fath?” sapa Yul.
“Hai Yul. Sibuk?” Tanya Fath.
“Ah enggak kok, sesuatu banget kamu tiba-tiba dateng kesini Fath.”
Mereka pun mengobrol sedikit, obrolan khas anter teman setelah kurang lebih setahun tak bertemu. Menanyakan kabar, kegiatan sehari-hari, sampai menceritakan teman yang lain. Sampai akhirnya Fath mengutarakan sesuatu, tujuan utamanya.
“Kamu masih sering komunikasi sama Al, Yul?” Tanya Fath pada Yul, menanyakan tentang Al, teman mereka, sekaligus mantan kekasih Fath.
“Heemh...” Yul menghela napas.
“Kenapa Yul?”
“Itu yang aku gak ngerti. Semenjak akun fb nya nggak aktif, twitternya dihapus, Al jadi misterius. Disms jarang bales, ditelpon nggak diangkat, blog nya juga gak pernah diupdate.”
“Oh...”
“Kenapa, Fath?”
“Ternyata Al kaya gitu ya Yul.”
“Kaya gitu gimana?”
“Banyak banget yang dia rahasiain dari aku, Yul.”
“Rahasia?”
Dan Fath mulai bercerita panjang lebar mengenai kisahnya dengan Al, tentang beberapa hal yang disembunyikan Al dari Fath, dan akhirnya kini terbongkar.
“Dan kamu percaya sama semua itu, Fath?” Tanya Yul setelah Fath mengakhiri ceritanya.
“Yaaa...”
“Apa kamu juga tau Fath kalau Al itu suka kamu sejak SMA? Semenjak dia kenal kamu Fath?” Yul memutus pembicaraan Fath dan melontarkan pertanyaan yang membuat Fath tercengang.
“Bahkan sebelum aku kenal sama Al, Al udah suka sama kamu, dia perhatiin kamu, dia naksir kamu, Fath.” Lanjut Yul.
“Ah bull shit itu, Yul.” Fath menyangkal, padahal wajahnya sudah jelas memperlihatkan ketidak percayaan namun penuh Tanya.
“Kenapa kamu bilang gitu? Kamu gak percaya?”
“Apa aku kudu percaya?”
“Iya, harus percaya. Karna Al gak pernah bohong sama aku.”
“Tapi Al pernah bohong ke aku, Yul.”
“Tapi dia bohongin kamu semata-mata demi kebaikan kalian, Fath.”
Fath terdiam.
“Kalian kenal semenjak kelas 1 SMA kan? Karna kalian ikut ekskul yang sama, kalian saling kenal, smenjak itulah Al ada rasa ke kamu, Al punya perasaan khususn ke kamu, Al naksir kamu. Bahkan itu sebelum aku kenal yang namanya Al. Selama 3 tahun dia jatuh cinta diam-diam ke kamu, tanpa ada yang tahu kecuali dia dan Tuhan. Waktu kamu punya pacar, Al diam. Waktu kamu asik dengan dunia kamu, Al diam-diam ikut nikmatin. Sampai akhirnya kita lulus SMA, Al sedikit demi sedikit berani certain isi hatinya ke aku, dan semuanya tentang kamu. Dan kamu datang ke Al, masuk ke kehidupan Al lebih dalam. Kamu tau Fath, gimana bahagianya Al saat itu? Saat perasaanya terbalas? Mengharukan Fath. Selama 4 tahun dia diam, akhirnya itu gak sia-sia, yaaa meski akhirnya kalian harus pisah gara-gara Al sendiri...”
“Cukup Yul, itu udah dulu. Masa lalu.” Air muka Fath berubah, bimbang.
“Ya itu emang dulu. Tapi sekarang, kayanya masih sama Fath. Sekarang pun, aku yakin, Al masih sayang sama kamu.”
“Mana buktinya, Yul? Sayang macam apa kalau dia menghilang kaya gini? Lagi pula kami udah lama putus, itu udah berlalu dari 4 tahun lalu.”
“Memang nggak ada bukti. Setidaknya sampai detik terakhir Al ngubungi aku sebulan lalu, Al masih sempet bilang kalau dia masih sayang sama kamu. Dan masalah Al menghilang ini, aku rasa dia punya alasan, Fath.”
Fath makin kalut mendengar uraian Yul, tentang Al, mantan kekasihnya. Pikiranya kembali ke 4 tahun lalu, dimana dia mulai merasa ada yang beda pada perasaanya pada Al. Al yang perhatian padanya, Al yang ada ketika dia sedang dilema, Al yang sabar mendengar keluh kesahnya. Ah, Al... kenapa kisah mereka harus berakhir begitu saja, tanpa alasan yang jelas. Tanpa sadar, Fath meneteskan air matanya, di hadapan Yul, teman dekat Al.
“Al, dia pernah menjalin hubungan dengan orang lain setelah dia putus sama kamu, Fath. Tapi sia-sia, perasaanya ke kamu nggak bisa hilang, dia tersiksa sendiri. Klasik memang, masalah cinta sampai mendominasi hidupnya, kaya nggak ada hal yang lebih penting dari cinta. Tapi ya memang begitu realitanya...”
Fath membungkukkan badanya, menopangkan tanganya di lutut dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Masih menangis. Mungkin tidak pantas dipandang, dan mengagetkan jika melihat lelaki yang selalu Nampak tegar seperti Fath bisa lumpuh seketika mendengar ada perempuan menyimpan rasa padanya sebegitu lama, 9 tahun.
Hening. Yul tak bisa bicara apa-apa melihat Fath yang hanyut dalam dukanya, merasa kehilangan Al. Dan Al sekarang menghilang, tidak ada yang tahu keberadaan Al. Tak satupun dari mereka, juga teman-temannya.
***
4 hari setelah tragedy tangisan di teras rumah Yul, Fath datang kembali. Mencari Yul. Sejam yang lalu dia menerima pesan singkat dari Ind, teman akrab Al semasa kuliah. Dalam pesanya, Ind mengatakan bahwa Al sekarang di kampung halamanya, dia sedang dirawat di rumah sakit. Tapi Ind tidak menyebutkan penyakit apa yang diderita Al. Sontak Fath kaget membaca pesan itu, pulang dari tempat kerja, Fath menuju rumah Yul bermaksud mengabari Yul perihal Al.
“Kalo kita kesana gimana, Yul?” Fath bermaksud mengajak Yul mengunjungi Al di kotanya.
“Aku pikir emang sebaiknya gitu, Fath.” Yul setuju.
Hari itu juga mereka berangkat menuju kota tempat tinggal Al. Perjalanan ditempuh kurang lebih sekitar 3 jam dari kota tempat keduanya tinggal. Menjelang senja mereka memasuki kota. Berbekal informasi dari teman Al tentang rumah sakit tempat Al dirawat, mereka mengelilingi kota yang tak begitu asing bagi mereka, kota kelahiran Al. Dan mereka pun menemukan rumah sakit tempat Al dirawat. Setelah melewati beberapa lorong akhirnya mereka menemukan ruangan tempat Al dirawat. Tepat di depan kamar, ada seorang perempuan sebaya mereka, duduk termangu di kursi teras kamar. Itu Ind, teman akrab Al.
“Permisi, Mbak...” Sapa Fath.
Perempuan itu terhenyak dari lamunannya, sadar. Dan ia langsung berdiri manyambut kedatangan Fath dan Yul. Dia tahu, Itu Fath. Seperti yang sering digambarkan Al padanya, hitam manis, bermata tajam.
“Fath ya?” Ind memastikan.
“Oh iya, saya Fath.” Mereka pun bersalaman, saling mengenalkan diri. Begitu pula dengan Yul.
Fath dan Yul tak langsung masuk ke kamar, mereka berbincang sejenak dengan Ind.
“Baru semalam aku sampai disini, niatku pengen kasih kejutan buat Al. Nggak taunya, malah aku yang terkejut...” Ind membuka ceritanya, dia kemudian menceritakan sedikit hal tentang yang terjadi sebenarnya. Kenapa Al menghilang tiba-tiba dari beberapa teman lamanya.
“Jadiii.... itu sebab Al menghilang dari kami, Mbak?” Fath belum percaya.
“Kita boleh lihat Al kan?” Tanya Yul.
“Oh iya, silakan, ada Ibu Al di dalam.” Ind kemudian membukakan pintu kamar untuk Fath dan Yul.
Di dalam, Al terbujur lemah di ranjang, badanya kurus, matanya tertutup. Di sampingnya, Ibunya duduk dengan Al-Qur’an di tangan. Membacakan Ayat suci untuk anak semata wayangnya, Al. Menyadari kedatangan Fath dan Al, sang ibu kemudian menghentikan kegiatanya dan menyambut Fath dan Yul. Mereka berdua pun kemudian menyalami Ibu Al. Ini kedua kalinya Yul bertemu Ibu Al, tapi bagi Fath ini pertama kalinya. Sedikit berbasa-basi, Ibu ini Nampak sangat tegar menghadapi ujian ini. Fath dan Yul menghampiri ranjang Al. Mereka menatap sahabat karibnya ini dalam-dalam. Sedih.
“Al cuma tidur, tadi habis minum obat. Insyaallah, lusa Al menjalani operasi...”
“Lusa tante?” Fath memastikan.
“Iya, Nak Fath. Yah semoga operasinya lancar ya, dan Al sehat kembali. Doakan ya nak...” pinta Ibu Al.
“Iya Tante, kami harap juga begitu.” Tandas Yul.
“Yah, kalian kan teman dekatnya Al, pasti Al juga sudah cerita tentang sakitnya pada kalian. Kalian pasti tahu kan bagaimana kebiasaan Al waktu kuliah dulu? Bandel kalau disuruh jaga kondisi badan, keluar-masuk rumah sakit dengan kasus yang itu-itu saja, pasti masalah pencernaan. Yang infeksi lambung lah, infeksi usus. Rasanya tiap semester pasti Al masuk rumah sakit karna itu. Tante sampai mau pindahin kuliah Al ke dekat-dekat sini saja, biar dekat dengan tante, biar ada yang mengontrol, biar Al gak sembarangan. Tapi Al tetap bertahan disana, sampai dia lulus, dan keinginannya untuk mengajar di sekolah kejuruan tercapai. Tante senang sekali, Al kembali ke kota ini, berkumpul sama tante lagi. Tapii... malah begini yang terjadi, padahal kebiasaan buruknya sudah berkurang karna dibawah pengawasan om sama tante. Tapi ternyata sekarang justru kanker yang menyerangnya....” ibu Al bercerita panjang lebar mengenai putri satu-satunya itu. Beliau membelai rambut Al, menatapnya tegar. Fath tercengang melihatnya, di benaknya berkelebatan bayangan-bayangan 5 tahun lalu, dimana saat dia menjalin hubungan dengan Al. Al tidak membalas pesanya sama sekali, menghilang begitu saja, dan dia mulai kesal pada Al. Tanpa dia tahu ternyata Al sedang sakit dan dirawat di rumah sakit kala itu. Betapa menyesalnya dia menyalahkan Al yang menghilang begitu saja tanpa kabar.
Setelah bercerita, Ibu Al pergi keluar kamar bersama Ind. Kini tinggal Fath dan Yul yang bersama Al dikamar. Yul menangis melihat sahabat kentalnya kini terbaring lemah di ranjang, pucat. Terakhir kali mereka bertemu tahun lalu, di pernikahan salah satu teman mereka, waktu itu Al baru saja diwisuda, dia Nampak sehat dan ceria sekali. Setelah itu Al kembali ke kotanya, bekerja sebagai guru di sekolah keguruan, selama itu mereka masih saling berhubungan, entah lewat sms, telepon, jejaring sosial. Hingga sampai akhirnya sebulan yang lalu, semua akun jejaring sosial Al telah tidak aktif, no.ponselnya pun diganti, tidak bisa dihubungi, Yul kehilangan kontak dengan Al. Dan ternyata ini yang terjadi pada Al. Yul tidak bisa berkata apa-apa, takut tangisanya terdengar Al yang sedang tidur, akhirnya dia keluar. Meninggalkan Fath dan Al berdua.
Hening, Fath termenung memandangi keadaan Al. Ia mencoba berbicara lirik kepada Al yang sedang tidur, entah Al bisa mendengarnya atau tidak.
“Al... “
Fath memanggil Al lirih. Al tak bergerak.
“Al... kenapa sih kamu sediam itu? Apa aku terlalu menakutkan buat kamu? Sampai kamu diam sebegitu lamanya, harus nunggu sampai aku yang mulai...” Fath mengungkit masa lalu.
“Al, aku heran sama kamu, kamu kuat banget diem segitu lamanya, falling in love in silent. Kamu tuh lucu tau nggak, 4 tahun diem gak berkutik sama sekali, untung aku punya rasa yang sama kaya kamu, jadi aku yang mulai buka perasaan, kalo nggak? Gimana jadinya ya, Al? Apa kamu bakal diem selamanya? Al... Al... status kita emang udah berakhir dari 5 tahun lalu, tapi tau nggak Al? Perasaanku nggak lho, masih ada sampai sekarang. Klasik ya Al, ngapain aku ngomong ini ke kamu? Hiperbol. Tapi biarin deh, sekali-sekali hidup juga boleh disetting kaya film, dramatis.”
Kemudian hening. Al masih diam tak bergerak, tapi hembusan nafasnya terasa. Fath memberanikan diri memegang tangan Al.
“Sekarang, kamu gak bisa lari lagi Al. Yul udah cerita semua tentang kamu... semuanya. Dan itu kejutan buat aku. Kemanapun kamu menghilang, kamu kabur, aku pasti bisa nemuin kamu Al. Jangan ngilang lagi ya... janji sama aku ya Al, setelah kamu operasi, kamu pulih, dan kamu sehat lagi, kamu nggak akan diem kaya yang dulu-dulu. Bilang Al, bilang apa yang kamu rasain. Ya Al? Kamu mau kan?” Fath menggenggam tangan Al makin erat. Sekuat-kuatnya Fath menahan diri untuk tidak menangis, akirnya dia tumbang juga. Fath terisak, di hadapan perempuan yang diam-diam masih ia harapkan untuk mengisi ruang hatinya kembali.
Fath mencoba melepas genggamanya di tangan Al, tapi sontak ia terkejut, tangan kurus itu yang kini menggeggamnya, menahan tangannya untuk tidak terlepas. Al terbangun, matanya terbuka, pipinya telah basah oleh air mata.
“Al...” Fath terkejut, haru melihat Al.
“Fath...” Al terisak. Suaranya lemah.
“Kamu bangun, Al?”
Al tersenyum. Pucat.
“Aku denger, Fath....” kata Al lemah.
“Jadi, kamu tadi...”
Al mengangguk, kemudian tersenyum. Senyumnya masih sama dengan senyum yang dilihat Fath setahun lalu.
“Iya, aku denger semuanya, semua yang kamu bilang barusan, Fath.”
Fath pun tersenyum.
“Maafin aku ya, Fath...”
“Nggak ada yang perlu dimintakan maaf, Al...”
“Tapii...”
“Heemh... ya mungkin akhir yang kita hadapi kemarin nggak sesuai harapan. Tapi, sekarang semua udah jelas kan? Kita bisa memulainya lagi Al, kita masih punya waktu untuk membuat akhir yang lebih baik, ya kan Al?”
Al mengangguk mantap. Senyum yang dirindukan Fath selama ini bisa dia lihat lagi.
***
Satu bulan pasca operasi. Al masih harus menjalani bermacam terapi dan masih harus check up kerumah sakit beberapa kali. Kondisinya sudah mulai membaik, meski belum bisa dikatakan sehat. Setidaknya dia sudah tidak lagi menghabiskan waktunya di ranjang rumah sakit. Dan kini, ada Fath yang tiap akhir minggu mengunjunginya, menemaninya menjalani terapi, menemaninya jalan-jalan, motivator baru untuk Al. Terkadang Yul juga ikut datang bersama Fath, namun tidak setiap minggu seperti Fath. Ayah dan Ibu Al sangat terbantu dengan kehadiran Fath. Calon anak laki-laki mereka.


There is Something Between You and I


"Day... baca ini deh..." Aku menyodorkan ponselku pada Dayu, sahabatku. Oh bukan, mungkin lebih dari itu. Aku sedang membuka akun twitterku, ada tweet menarik dari akun umum, challenge.
Dayu membacanya dan tertawa. Aku sedikit merasa tersinggung.
"Kok malah ketawa?" Aku protes.
"Apaan sih ini Yas?"
"Baca yang bener donk Day, yang itu..." Aku menunjukkan tweet yg kumaksud pada Dayu.
"Iya, yang ini kan?"
Dibacanya ulang tweet itu dengan lantang.
"Cewe-Cowo sahabatan tanpa ada rasa suka, mungkinkah?" Dayu terdiam. Pandanganya menghambur ke depan.
Aku memandangnya dari samping, menggigit bibir bawahku. Kelu. Dan momen seperti inilah yang selalu menjadi favoritku ketika bersama Dayu. Berdua, Dayu sok serius, tapi lebih terkesan konyol. Karna Dayu bukan tipikal manusia seperti itu.
Sret! Dayu menoleh padaku. Mata elangnya langsung beradu dengan mata bulatku yang sedari tadi memandangnya penuh harap.
"Jadi, lo mau terima challenge kacangan ini?"
Kali ini kulihat Dayu benar-benar serius.
"Ini bukan kacangan Day, uji nyali tauk."
"Heemm... Iya sih."
Dayu terdiam, berfikir.
"Trus, yang mau lo tanyain soal ini siapa Yas?" Tanya Dayu seketika. Jleb. Oh God, aku pikir Dayu udah paham soal ini. Karena cuma dia sahabat cowoku yang paling deket sejagad raya ini, cuma Dayu sahabat cowokku yang paling lama barengan sama aku, dari SD. Ternyata keseriusan Dayu tidak bisa dipercaya begitu saja, seseriusnya Dayu, tetap saja otaknya melenceng.
Aku jengkel. Diam.
"Siapa Yas?" Tanya Dayu lagi.
"Ya elo lah Day."
Dayu mengerutkan keningnya, bingung.
"Kok gue?"
"Ya siapa lagi donk? Temen gue yang paling deket ya cuma elo Day."
"Iya sih."
Kami terdiam lagi.
"Jadi?" Dayu berulah lagi. Tak paham lagi.
Langsung kujawab tanpa basa-basi. Aku ingin semuanya jelas. Apa perasaanku ini murni, atau ada racun2 cinta kepada lawan jenis di dalamnya.
"Apa mungkin kita ituu... Gak mungkin punya rasa lebih?" Kutodong Dayu dengan pertanyaan yang disarankan oleh tweet umum tersebut.
"Jadi maksudnya elo..."
"Jawab dulu Day..."
"Tunggu... Tunggu... Jangan bilang habis gue jawab, trus jawaban gue lo tweet ke tuh akun..."
"Dayu, jawab dulu!"
"Oke, fine, gue jawab Yas. Tapi gue punya syarat."
Apa-apaan Dayu ini? Kenapa ada syarat segala? Apa sulitnya jawab pertanyaan itu? Kalau toh gak ada rasa, simple kan?
"Apa?"
"Ini cuma antara kita berdua, gak usah pake acara tweet2an segala, ini sama aja elo blow up rahasia terbesar elo ke dunia luar Yas." Perkataan Dayu sepertinya berlebihan. Tapi, ada benarnya, toh ini demi kebaikan kita berdua, kenapa orang lain mesti tau?
"Iya deh iya, pegang tuh hp gue, biar gue gak macem-macem." Kataku sembari meletakan ponselku di depan Dayu.
Dayu menghela napas panjang, pandanganya menghambur entah kemana, aku suka Dayu yang seperti ini. Manis.
"Jadii... Apa lo ada rasa ke gue, Yas?" Dayu menoleh padaku, menodongku dengan tatapan elang mautnya.
"Nggak tau Day..." Aku menunduk. Jujur, aku takut dengan pandangan Dayu yang diarahkan padaku itu.
"Elo pernah kepikiran gak Yas, kalo kita bakal punya perasaan lebih satu sama lain?"
"Em... Pernah Day."
"Gimana rasanya?"
"Gue takut Day."
Dayu tersenyum
"Gue takut salah satu dari kita, atau bahkan kita berdua gak bisa nerima perasaan itu, berangkat dari hubungan persahabatan ini, yang uda terlalu baik ini Day..."
"Dan kalau beneran terjadi, elo suka sama gue, gimana Yas?"
"Nggak tau Day..."
"Elo mau gue gimana? Mau gue tau perasaan elo? Trus berharap gue punya rasa yang sama gitu?"
"Mungkin gitu Day... Realistisnya aja lah..."
Dayu berdiri, pindah ke kursi yang berhadapan dengan tempat dudukku.
"Yas, elo tau kan gimana gue?" Dayuuu... Plis, jangan tatap aku kaya gitu, aku takut. Aku terus menunduk, tak berani mengangkat wajah di hadapan Dayu yang seperti ini.
"Yas, elo inget siapa aja yang pernah minta gue buat jadi cowonya selama elo kenal gue?"
"Iya inget, ada banyak."
"Apa elo inget siapa yang gue tolak?"
"Inget."
"Yang gue terima?"
"Eeem... Nggak pernah ada kan Day?"
Ya, selama kamu berteman, Dayu sering menerima proposal cinta dari banyak perempuan. Entah apa pesona Dayu, sampai begitu banyaknya perempuan yang rela menjatuhkan image mereka dengan menyatakan cinta terlebih dahulu pada laki-laki, dan laki-laki itu adalah Dayu. Tapi sampai sekarang, di usia kami yang ke 20, tak ada 1 pun perempuan yang berhasil menaklukan Dayu, semua proposal cinta yang diterima, dia tolak terang-terangan. Dan aku tak pernah tau, siapa yang Dayu cintai, perempuan mana yang menjadi idaman Dayu.
"Good, itu elo tau tentang gue."
"Trus?"
"Trus... Apa elo tau Yas kenapa gue begitu?"
Aku menggeleng. Apa Day? Kenapa?
"Karna elo, Yasaaaa..."
Deg! Apa maksudnya ini?
"Dayu! Apa-apaan sih? Serius donk."
"Elo pikir gue bercanda gitu?"
"Trus apaan donk?"
"Gue takut Yas, kalo gue pacaran, lo gimana? Kalo gue perhatiin elo, pacar gue gimana?"
"Jadi elo pikir selama ini gue gak bisa tanpa elo gitu Day?"
"Maybe, kita terlalu sering saling menggantungkan Yas, lo ngerasa gitu gak sih? Apalagi biasa bareng terus."
Memang iya. Aku tanpa Dayu, lemah. Dayu tanpa aku, kurang lengkap.
"Itu yang bikin gue gak bisa ngelepasin lo, Yas. Sekalipun lo punya pacar. Gue mungkin bakal kaya gini terus."
Dan aku makin tak mengerti, kemana arah pembicaraanku dan Dayu saat ini. Dan kali ini Dayu memalingkan mukanya dariku. Diam.
"Jadi... Gimana kita sekarang?" Aku bingung harus berkata apa.
"Biar kita kaya gini aja ya?" Mata Dayu teduh, bukan lagi mata elang yang tadi.
"Sahabat?" Tanyaku.
"Lebih dari itu."
"Sodara?"
"Ada rasa yang gak biasa."
"Tapi bukan pacar kan?" Aku memastikan.
Dayu menggeleng.
"Kenapa kita kaya gini, Day?"
"Kenapa nggak, Yas? Kalo pacaran ada putus, kenapa kita gak temenan aja, gak pernah ada matinya. Toh kalopun jodoh, juga gak bakal kemana."
Dayu lebih terlihat santai kali ini. Ini Dayu yang biasanya. Dan aku mengerti sedikit demi sedikit sekarang.
"Sampai kapan kita gini?"
Dayu meraih pergelangan tanganku.
"Sampai kita menemukan jalan kita masing-masing, sampai kita memutuskan pilihan hidup kita."
"Kapan itu?"
"Sampai kita bertemu jodoh kita."
Aku tersenyum. Dayu memandangku, dan aku berani melihat tatapanya lagi.
Hari ini, lagi-lagi Dayu yang mengajariku sesuatu.

Sometimes, the best way to stay close to someone you love is by being just a friend... (Yasa&Dayu)

Balikin Hati Gue IV

Diam-diam setelah Adis hilang dari pandangan Maha dan dipastikan masuk ke kelasnya, Maha kembali ke Auditorium, masuk lagi kemudian ia menaiki kursi yang ada di bawah salah satu jendela gedung, mengambil sesuatu yang diletakkan di angin-angin jendela. Sebuah Handycam dalam keadaan on. Semua hal yang terjadi di dalam Auditorium tersebut terekam di dalamnya.
“Ini emang Drama, tapi Aku berharap suatu saat ini bukan sekedar drama, ini bakal jadi kenyataan. Mungkin saat ini Aku bukan orang yang Kamu cintai dan kalo orang yang bakal Kamu cintai adalah suami Kamu kelak, Aku ingin jadi suami Kamu.
***
Dua hari yang lalu…
“Ha, Lo dapet salam lagi dari kelas 1” Reno membuyarkan konsentrasi teman-temannya di Ruang OSIS dengan kabar tersebut.
“Wa’alaikumsalam” Jawab Maha santai.
“Fans baru lagi tuh, laris manis” Wahyu nimbrung.
“Laris sih laris, tapi kapan nih traktiran?” sindir Dana pada Maha yang sampai sekarang masih betah  jadi jomblo.
“Udahlah guys, apa sih enaknya pacaran?” Tanggap Maha santai.
“Makanya, puya cewek donk Lo!” Suruh Reno.
“Emang bisa?” Tanya Maha merendah.
“Ha? Eh, Maha tanya nih bro! Emang bisa? Bisa nggak Bro?” Ledek Wahyu.
“Nggak, Lo nggak bisa Ha, tenang aja.” Tambah Tya.
Maha hanya tersenyum tenang mendengar ocehan anak buahnya.
“Heh, ayam bego juga tahu kalo nggak ada cewek di sekolah ini yang bakal nolak Lo!coba aja.” Nasihat Ardo.
“Nggak semua, paling Cuma beberapa. Gue kan juga manusia” Maha merendah lagi.
“Siapa sih yang nggak mau jadi cewek Ketua OSIS?” Siska nyambung
“Pasti ada” Jawab Maha yakin.
“Berani taruhan, sekali Maha nembak salah satu cewek sekolah ini, pasti diterima.” Kata Reno yakin
“Gue ikut, dijamin Maha diterima.” Wahyu ikut-ikutan.
“Gimana, Guys?” Reno minta pendapat yang lainnya.
“Gue setuju.” Tya bergabung.
“Oke! Gue mau, kalo kalian menang apa taruhannya?” Tantang Maha.
“Lo jadi kacung Kita selama 5 hari.” Balas Reno mewakili teman-temannya.
“Boleh, dan kalo ternyata Gue ditolak, Kalian nggak Gue apa-apain karma pada dasarnya, kalian kan kacung Gue.” Balas Maha tanpa beban.
“Terus Targetnya siapa?” Tanya Tya.
“Semuanya bakal ada di sini.” Maha mengangkat Handycam di sampingnya.
“Cara mainnya?” Wahyu ikut-ikut tak mengerti.
“Kita liat dua hari lagi. ok!” Maha meninggalkan teman-temannya dengan senyum merekah.
“Nabila Adistya…Tunggu Aku!” Batin Maha yakin.

THE END



April 22, 2008             

Balikin Hati Gue III

Dan pagi itu jadi nggak ada indah-indahnya, nggak keren banget, Guys! Mau tahu kenapa pagi yang sebenernya cerah ini jadi suram bagai tanpa temaram buat Gue? Simple aja, semua gara-gara mimpi soal Maha yang nyuri hati Gue semalem. Dan efek tuh mimpi besar banget. Mimpi itu bikin Mug special Gue pecah, bikin pagi cerah jadi gerah, nyebelin deh. Sampe-sampe mau berangkat ke sekolah aja malesnya minta ampun.
Gue emang males banget ke sekolah, tapi kok bisa-bisanya Gue dateng sepagi ini? sepi banget suasananya. Oh God, bel masuk masih sekitar 25 menit lagi. Duh…nganggur donk. Tapi tiba-tiba, Gue dicegat dua sosok Hawa yang penampilannya sama sekali nggak kayak 3P alias Preman, Penodong, Pemalak. Mereka berdua justru pasang muka yang so sweet banget  tapi so maksa juga. Mereka itu sohib deket Gue, personel Trio Becak kelas X.8 tahun lalu. Yep, yep, yep, mereka itu Tya en Riri. Kaget juga ngeliat mereka jam segini udah muncul di sekolahan.
“Pagi, Non…” Sapa Tya
“Kita punya surprise buat Lo” Tambah Riri. Gue heran deh, pada kesambet setan mana sih?
“Ikut Kita yuk…” Nggak pake kompromi, Riri nyeret Gue dengan kekuatan super powernya. Gue yang bengong bin ola-olo dengan begonya nurut aja. Gue diarak ke arah barat sekolah, ke Gedung Setan alias Auditorium, nggak jelas mau diapain.
“Lo berdua mo ngasih surprise apaan? Tumben banget” Gue akhirnya mau buka mulut.
Ada aja” Jawab Riri tanpa dosa
“Sekarang mending Lo masuk ke dalem” Suruh Tya waktu Kita sampe di depan pintu samping Auditorium.
“Ngapain?” Gue nggak ada firasat  apa-apa.
“Lo bakal tahu kalo Lo masuk.” Jawab Tya
“A must?” Tanya Gue lagi.
“Wajib!” Jawab Tya lagi.
“Emang di dalem ada apaan?” Gue makin penasaran.
“Ya makanya sekarang buruan Lo masuk.” Riri dorong badan Gue sekuat tenaga buat masuk ke dalem.
“Ya, buruan masuk sana” Tya ikut-ikutan.
Jebrettt !!! Gue terjerembab ke dalem, pintu ditutup dan whoa! Gue dikunciin di dalem gedung. Panik? Udah pasti lah.
“Hoey… Maksudnya apaan nih?!?” Teriak Gue sekenceng-kencengnya tanpa liat sekitar. Perhatian Gue Cuma tertuju keluar, ke dua kaum hawa yang nggak bertanggungjawab tadi, Tya sama Riri.
“Baik-baik ya Lo di situ, Dis” Kata Tya cekikikan berdua sama Riri. Huh! Dasar anak manusia!
“Lo berdua mo ngapain Gue sih?” Gue berontak, agak-agak takut juga siy.
“Kan Kita udah bilang, itu surprise jadi nikmatin aja tuh.” Dasar gelo! maunya apaan siy?
Mereka pergi, lenyap gitu aja. Kayaknya pecuma deh, mereka nggak maen-maen. Pasrah aja ah…
“Ehm…ehm…” Hah?!? Siapa tuh?
Sret! Gue noleh ke asal deheman barusan. Sesosok Manusia generasi Adam dengan PeDenya disaat Gue lagi kena samsara gara-gara terkurung di sini, nyandar ke tembok dengan kaki menyilang dan tangan di saku celana. Gilanya Dia pasti liat kekonyolan Gue tadi, duh…malunya, cariin panci donk buat nutupin muka Gue yang udah kayak kepiting rebus ini.
“Slamat pagi, Adis” Orang itu nyamperin Gue. Bengong, mematung, kaku Bro! Gue nggak lagi mimpi kan? Aduh Tya, Riri Lo berdua tega banget sih? dibayar berapa Lo sama nih makhluk Tuhan yang nggak seksi ini? Hey, tolongin Gue, siapapun yang denger kata hati Gue.
“Kok diem?” Sumpah! so sweet banget senyumnya, bikin Gue klepek-klepek aja. God…ini rejeki apa musibah di pagi buta?. Suaranya lembut banget, bikin Gue nggak bisa berkata-kata. Rasanya kehilangan suara, nggak ada energi sama sekali, padahal Gue dah sarapan lho. Sumpah! Gue lemes banget.
“Sorry ya? Pagi-pagi gini udah bikin rebut. Udah ganggu aktivitas Lo.” Katanya malu-malu.
“Oh..eh...e…its okay, nggak apa-apa” Wadaw! ketahuan juga gagap Gue, grogi Gue, Salting Gue. Tapi syukur deh suara Gue masih.Gelo, bener-bener gelo.Gue sebagai Korban nggak ngerti mau ngomong apa. Padahal biasanya Gue udah ngomel-ngomel nggak jelas kalo udah diginiin. Tapi nggak tahu kenapa, saat ini Gue nggak bisa jadi Gue yang biasanya, Gue serasa ada di dunia yang beda. MAHENDRA PRAMODYA !!! Kenapa sih Lo mesti lahir ke dunia dan mesti ketemu Gue? Congratz ya Maha, Lo udah berhasil bikin Gue jadi gila!.
“E…” Wow! Barengan Kita mo ngomong sesuatu, jadi salting deh.
“Mending Lo duluan yang ngomong” Pasti deh ntar rebutan nyuruh ngomong.
“Tapi…” Bener kan Gue bilang.
“Nggak ada yang penting kok, Lo aja duluan.”
“Ok, thanks.” Edan, baru kali ini Gue liat seorang Ketua OSIS, seorang Orator ulung Sekolah keliatan linglung , di depan cewek lagi.
“Sorry Ya, Adis”
“Kenapa minta maaf?”
“Karna Gue… suka Lo, Dis.” What?!? Ah…pasti ini Cuma mimpi, Gue pasti Cuma diboongin. Coba nyubit  pipi aja ah… aduh!
“Lo nggak lagi mimpi, semua ini tuh beneran.” Waduh! pantesan sakit.
Gue linglung, salting, nggak tahu mesti ngapain.
“Apa Lo mau jadi pacar Gue?” Duar!!! Apa lagi nih? Aduhh… kok jadinya kayak gini? Apa Maha beneran? Tapi, kalo dilihat dari warna mukanya yang tiba-tiba memerah terus bulir-bulir keringat di dahi sama di lehernya sih keliatan bener. Sumpah! Nih bocah makin sperktakuler aja.
“E… emang…”
“Jangan tanya kenapa semua jadi gini>”
“Trus?”
“Ya… Lo jawab mau ato nggak aja.”
“Em…gimana ya?” Gue meras otak, cari cari dan cari jawaban yang tepat. Dan hap! ok! Gue udah dapet jawabannya.
“E…Maha.” Gue ngulurin tangan, ngajak salaman maksudnye.
Maha bales uluran tangan Gue.
“Gimana?” Maha keliatan deg-degan banget.
“Gue minta maaf, Gue nggak bisa.” Gue ngelepas tangan Gue dari jabatan tangan Maha.
“Are You sure? Is it the last  answer?” Maha gimana…gitu. Kecewa ada, ekspresi lega binti plong juga iya. Mana yang bener?.
“Sorry, bukannnya apa-apa. Tapi…”
“Sst…nggak usah bilang apa alesan Lo nolak Gue, karma Gue juga nggak bilang kenapa Gue lakuin ini. Daripada ntar malah ada apa-apa, mending Gue nggak usah tau soal ini.
“Jadi?”
“Ya semua kembali seperti semula.”
“Kita balik kayak biasanya?”
“Iya, Gue sebagai Maha…”
“Sang Ketua OSIS yang dikagumi banyak orang”
“Yang sekedar tahu kalo Adis itu sohib akrab orang-orang penting di OSIS kayak Tya, Wahyu, dan Ruly. Tapi nggak kenal Lo.”
“Dan Gue tetep seorang Adis yang mengenal Lo nggak lebih dari seorang Ketua OSIS, orang paling popular setelah kepsek di sekolah ini.” Dan sebagai orang yang pernah jadi pencuri hati Gue, Batin Gue.
“Its okay. Deal?”
“Deal.”
“Kalo gitu, sekarang Kita keluar dari sini. Kayaknya semenit kagi bel masuk bakal bunyi deh.”
“Gimana keluarnya? Pintunya kan dikunci tadi.”
“Tenang aja, nih Gue bawa kunci pintu yang satunya.” Maha dan Gue keluar dari auditorium beriringan. Suasana hening menggelayuti.
Ada banyak alesan kenapa Gue nolak Maha, meski sebenernya Gue suka, Gue saying, Gue cinta sama Maha. Tapi setelah dipikir-pikir, rasa Gue ke Maha ini Cuma sekedar obsesi, rasa simpatik belaka,b ukan rasa cinta yang asli. Cinta Gue yang asli kan buat suami Gue ntar, bukan sekarang. Dan…makasih ya Maha, Lo udah kembaliin hati Gue yang sempat Lo ambil lewat kejadian pagi ini. Hhh…Maha, seandainya Lo tahu isi hati Gue yang sebenernya.
“Ok, Kita anggep pagi ini Cuma mimpi, nggak ada di alam nyata ato ini nggak pernah terjadi.” Kata Maha bikin kesepakatan. Deal, setuju!. Kita pun pisah di depan Auditorium.
*** 

About this blog

happy reading

Total Pageviews

Followers

About Me

Foto Saya
dianpra
Writing for Pleasure
Lihat profil lengkapku

thanks for visiting