Aku Tahu, Kamu? #2

“Aku nggak minta kamu untuk mengunjungi aku saja Nan, aku hanya memberi jalan. Diantara teman-teman seperjuangan, kamu yang paling kelihatan menghilang. Kamu nggak pernah muncul di grup, padahal hampir tiap hari kamu online. Nggak pernah menghubungi lebih dulu kalau nggak dihubungi.”
“Kamu tahu nan, kalau kamu mau ke sini. Banyak yang mau nemuin kamu. Teman-teman banyak yang berdomisili disini. Atau kita bisa mengunjungi yang lainnya, Grefi dan Wulan yang sekarang di Mojokerto, Rizal di Sidoarjo, Kita bisa lanjut ke Pasuruan untuk mengunjungi Arina, kita juga bisa main ke Malang, disana ada Yusuf, Anggi, Anwar, Mala, dan aku yakin ada banyak teman kamu lainnya disana...”
“Raka, Raka... dengerin aku, biarkan aku ngomong sekarang... semua udah berubah, kita punya kehidupan masing-masing, urusan kita udah beda-beda. Kamu nggak bisa seenaknya buat rencana seperti itu.”
“Iya, oke, aku minta maaf aku belum bisa mengunjungi kamu dan teman-teman lainnya, tapi jangan kira aku sudah melupakan kalian. Suatu saat aku pasti akan mencari dan mengunjungi kalian, tapi aku belum dapat waktunya. Pertemuan bukan jalan satu-satunya untuk tetap menjalin persahabatan, dunia sudah canggih, nggak pernah ketemu bukan berarti pertemanan putus gitu aja, lagi pula kalau Tuhan belum mentakdirkan kita untuk ketemu, kita juga nggak bisa maksa, Ka....”
Aku membela diri, aku lelah mendengar ocehan Raka yang sedikiti demi sedikit mulai memojokkanku. Aku mulai mendeteksi hal aneh pada diri Raka kali ini. Hari ini memang tidak biasa, Raka membahas diriku. Jika biasanya dia meneleponku lebih dulu untuk membahas perempuan-perempuan di sekitarnya, membicarakan tentang pekerjaannya, membicarakan tentang hobinya, membicarakan tentang kesehariannya tanpa sedikitpun bertanya bagaimana dengan diriku. Kali ini Raka membicarakanku.
“Tapi Nan...” Raka seperti mau menyangkal.
“Raka, kamu ini kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu jadi mengurusi aku? Kemana perempuan-perempuan yang selalu menemani kamu? Kenapa hari ini nggak kamu ceritain ke aku? Kamu sudah taubat? Aku pikir kamu tahu aku, Raka... ternyata Cuma sampai disini kamu tahu?”
“Harusnya aku tahu kenapa kamu menjudge aku seperti tadi, karena disetiap obrolan kita via telepon selama empat tahun ini kamu nggak pernah tanya gimana aku, kamu selalu tanya ‘nan menurutmu gimana?’ ‘nanda, tahu nggak sih’ ‘nan, aku minta pendapat’ selalu gitu kan, Ka? Coba kamu ingat-ingat, pernah nggak kamu tanya aku ‘gimana ceritanya kamu bisa bla bla bla’ ‘kamu ada rencana apa nan?’ atau sekedar ‘kamu baik-baik aja kan nan?’ nggak pernah kan, Ka? Oke, aku memang Cuma teman kamu, Ka, jadi aku nggak berhak menuntut apa-apa. Ternyata semua memang udah berubah ya, Ka... Pertemuan kita yang Cuma dua kali selama empat tahun ini nggak ada artinya ternyata, dan begitu kamu masih mau ngeyel minta aku buat nengokin kamu disana? Aku punya kerjaan lain Ka, prioritasku sekarang beda kayak dulu, aku....”
“Nanda, aku mau menikah.” Dengan tenang Raka memotong pembicaraanku yang penuh emosi. Satu kalimat, dengan suara yang merdu, tenang, aku merindukannya. Tapi... apa yang dia katakan? Menikah? Aku diam, Raka tak bersuara. Telepon masih tersambung.
Hening.
“Raka, kamu... serius?” Suaraku bergetar, memberanikan diri membuka kembali percakapan.
“Iya, Nan... aku udah menemukannya. Kamu benar, aku bertaubat.”
“Kapan?” “Awal tahun depan...”
“Well, selamat ya... akhirnya, kamu mendahuluiku, dasar berandal! Hahaaa” Aku berusaha mencairkan suasana. Melupakan perdebatan panjang dan pembelaan diri yang beberapa saat lalu terjadi padaku dan Raka.
“Hahhahaha... sorry ya, Nan...” Raka tergelak.
Oh, jadi Raka sudah menemukan belahan jiwanya? Pantas saja tidak dia ceritakan padaku. Pasti perempuan itu 180 derajat berbeda dengan perempuan-perempuan berpaham kemewahan yang dia ceritakan padaku selama ini. Semoga.
“Well, kamu serius mau ngajak aku mengunjungi teman-teman kalau aku ke Surabaya, Ka?” Kataku kemudian.
Ya, aku labil. Tak apa, sebelum Raka bergelar pria beristri. Lagi pula dia yang menawari bahkan memaksaku untuk mengunjunginya, mungkin dia punya pikiran yang sama. Bernostalgia sebelum dia menjadi suami orang.
“Of course, Nan. Jadi?”
“Seminggu sebelum puasa, siapkan semuanya. Kita hubungi teman-teman. Tunggu aku di Surabaya ya Ka.”

Aku Tahu, Kamu? #1

“Halo...” Aku mengangkat telepon, itu dari Raka, sahabatku. Dia sedang waras, makanya meneleponku.
“Halo, Nan... lagi ngapain?” Tanya Raka dari seberang. Suaranya renyah, benar, dia sedang waras. Sedang tidak berurusan dengan perempuan-perempuan itu.
“Nelpon.” Jawabku singkat.
“Kamu nggak tanya kabarku, Nan?” I have known, Raka. Kamu akan selalu baik-baik saja. Kecuali jika kamu tidak menghubungiku lebih dari dua bulan. Baru aku akan bertanya bagaimana kabarmu.
“Pasti baik kan? Aku juga baik kok, Ka.” Kemudian aku tertawa, sepihak. Raka diam. Is he okay?
“Ka... Raka... kenapa, hei?” Aku memanggilnya, memastikan dia baik-baik saja.
“Nan, kamu nggak kangen apa sama aku?” Deg! Haruskah aku jawab? Kalau aku boleh bohong, aku akan jawab tidak. Raka, empat tahun setelah kita berfoto bersama di halaman gedung Soetardjo dengan mengenakan toga ketika hari pengukuhan itu, kita hanya bertemu dua kali. Bagaimana mungkin aku tidak kangen? Semuanya begitu cepat brubah setelah hari itu.
“Kangen lah Ka... kenapa sih kamu?” Jawabku, akhirnya. Semoga detak jantungku yang makin cepat ini tidak terdengar oleh Raka disana.
“Hahahahaa...” Kudengar Raka tertawa. Apa-apaan dia? Kenapa dengan bocah ini?
“Nanda... Nanda... aku kangen kamu tauuukk. Kangen pakai banget nget. Balik kampung dong Nan, liburan gitu, terus tengokin aku di sini. Kamu betah banget di Bandung? Ada apa sih di sana? Jangan-jangan kamu udah dipinang orang sunda ya?...” Kalaupun aku balik kampung, apa kamu bakal datang ke kampungku yang notabene masih lima jam perjalanan dari tempatmu berada sekarang, Ka? Pikirku dalam hati.
“Ya kan kamu tahu aku di sini ngapain, Ka... kalaupun benar aku dipinang, kamu pasti jadi salah satu the big five orang yang aku kabari lebih dulu...”
Raka memotong pembicaraan.
“Inget umur, Nan... kamu tuh harusnya sekarang udah nenteng anak kemana-mana, kesana-sini ditemenin suami, nggak kayak sekarang, melancong kemana-mana sendirian. Habis lulus tiba-tiba balik kampung nggak ada kabar, tahun depannya udah di Lombok aja, pas aku tugas di Bandung kamu malah kerja di Surabaya, sekarang pas aku udah menetap di Surabaya kamu malah ngacir ke Bandung. Pakai acara kuliah pula. Nan, sekarang teman-teman seumuran kita udah pada sibuk ngurus keluarga, eh kamu malah sibuk ngurus proyeeek mulu, ngurus kuliah mulu, kenapa nggak dari dulu aja sih kamu kuliahnya?”
Yah... If I could, Ka... aku juga maunya begitu. Kamu emang hobi amnesia deh kalo soal ceritaku.
“Duh, nggak usah bawel deh, Ka. Aku kuliah lagi gini juga ada alasannya kali, berapa lama sih kita nggak ngobrol bareng...”
Belum sampai aku mengutarakan pembelaan diri, Raka memotong lagi.
“Kamu pasti putus asa ya, Nan? Kamu bilang kamu pengen banget ambil program master di Belanda? Eh malah nyasar di Paris, Paris van Java. Hahaha... Nanda... Nanda... Eh tapi kamu belum cerita ke aku lho gimana bisa kamu ikut short course ke Aussie 4 bulan lalu Nan?...”
“Basi ah, udah lama...” Aku bersungut kesal karena perkataan Raka barusan.
“Cieee... ngambek kamu, Nan?”
“Nggak.”
“Jadi?”
“Apa?”
“Kapan kamu mau balik kampung, Nan? Sebentar lagi kan puasaan, kamu balik kan? Atau Lebaran? Habis lebaran kamu ambil cuti kerja aja Nan, sounds cool, huh? Nanti kamu ke Surabaya ya? Atau gimana kalau kita ke Jember? Reunian sama teman-teman Nan... Ya kalau teman-teman nggak bisa, kita bisa nostalgia berdua di Jember.”
Raka mulai bicara sesuatu yang tak jelas juntrungannya, kenapa dia?
“Nggak bisa kali, Ka...”
“Bisa, Nan... pasti bisa. Kamu kerja ngurusin apa sih? Rasanya sibuuuk terus, tapi sibukmu nggak beralasan Nan, bukan alasan mengejar materi, bukan alasan karir, aku tahu itu. Aku tahu paling nggak sebulan sekali kamu masih sempat keluar kota mengunjungi tempat-tempat baru yang belum kamu kunjungi, mengunjungi teman-temanmu, relasimu, dengan teman-teman baru di lingkunganmu sekarang.“ “Aku tahu, setiap akhir minggu kamu masih sempat mengunjungi perpustakaan, atau persewaan buku, atau warung kopi, atau kafe, menghabiskan waktumu disana setengah hari dengan fiksi-fiksi itu. Tapi kamu nggak pernah sedikit pun meluangkan waktu buat teman karibmu, Nan... kamu menghilang dari lingkaran teman-teman seperjuanganmu...”
Raka mengoceh tak jelas, mungkin itu sebuah omelan untukku, aku tidak tahu kenapa begitu. Tapi nada suaranya tak berubah, masih renyah, tidak terdengar ada emosi buruk disana.
“Raka... apa maksud kamu?...”
Raka kembali memotong. Tidak seperti biasanya.

Lesson from Language Laboratory Visit


In semester 6, we take Language Laboratory Management subject. In this subject, we learn about everything that is related to the Language Laboratory, especially about the management of the Language Laboratory. We learn about how to manage a language laboratory. In the middle semester, we are given an assignment. We have to visit a language laboratory of a school, to observe the condition of the language laboratory.  
Finally, we chose SMAN Tempeh, Lumajang as the object for our language laboratory visit. On Friday, April 13th 2012, we went to SMAN Tempeh for visit the language laboratory. One of the English teachers in SMA Tempeh, Mrs. Endah greeted us and soon took us to the language laboratory. My first impression was surprised. The language laboratory looks like old. The condition of the tools is not quite good anymore. There are 30 booths, but only half of it which is can work well. The half ones are broken. That is the main problem of this language laboratory. Although the condition of language laboratory doesn’t support the learning activities well, but the teachers and students of SMAN Tempeh utilize it well. The English teachers use this language laboratory to teach listening and they combine with speaking and writing.
From this visit, I have got some lesson I can be learned. The condition of language laboratory and the enthusiasm of the teachers and the students of this school have taught me that limitation doesn’t make the enthusiasm of something being lost. It is even make us to be motivated. We have to study hard. If the things that we need do not support our activity, we are not allowed to give up, we can find the other alternative to face it. It is better if we do not depend on the facilities at all. Like the condition of the language laboratory in SMAN Tempeh, the broken equipments, the limitation of the facilities, do not being barriers for the teacher and the students to do the teaching - learning activities, they still can use the language laboratory well, although it doesn’t support well.
Another that, I can learn about cooperation in this visit. Cooperation is an important thing in this case. The cooperation is badly needed, in order to maintain the language laboratory. In SMAN Tempeh, I see the cooperation among the teachers, and also the cooperation between teachers and students to maintain the language laboratory is well. They use the laboratory wisely, because they know that the condition of their language laboratory doesn’t well anymore.

CCU - Game Report


The game we done several days ago teach us about something that is related to the culture. Before we started the game, the class divided into 4 groups, then the lecture give the rule for each group. And the main rule of this game is, we have to silent, we are not allowed to speak, we are not allowed to talk each other. We have to play with the cards, the member of the group that get the most card have to move to other group.
This game is like culture. It looks like same, but in fact it is different, it has rule. Each group in this game is like country, which is has its own culture. Each culture has its own pattern; the way of life of each culture is different. The country might be has one culture, and it is called monoculture nation. In a monoculture society, the essential traits are common heritage, belief structure, language and usually a mono-racial identity. The other country might be has more than one culture, it is called multicultural nation. In the multicultural nation, there are multiple cultures. It consists of various languages, nations, values, but they live together in a country. Sometimes, in multicultural nation, there is a phenomenon called ethnocentrism. It is the view that one particular ethnic group is somehow superior to all others.
The people in the group of this game are like the society. They experience a process whereby an established culture teaches an individual by repetition its accepted norms and values, so that the individual can become an accepted member of society and find their suitable role. This process is called enculturation. When someone leave their country and go abroad for certain period, they have to learn about the culture of the country that they will visit. They go abroad for sojourn, it can be sojourn for business, study, or just travelled.  In the beginning, they will experience holiday or honeymoon period, they very positive about the culture and feel fine with it. When they more face to face experience of the culture, they can feel strange and frustrating, they cannot adapt to the culture so they experience a culture shock. It is the personal disorientation, it is the confusing and nervous feelings a person may have after leaving a familiar culture to live in a new and different culture. When they can adapt the culture in the country they living now, little by little they can accept the value and the rule of the culture there, they experience the process of cultural and psychological change that result following meeting between cultures. It is called acculturation. It is different from enculturation, acculturation refers to the process by which one who already has that native culture adopts elements of another, foreign culture.

Hurt

Sakit.
Bersyukur, aku masih bisa merasakan sakit. Itu berarti aku belum mati rasa. Itu tandanya perasaanku masih bisa bekerja dengan semestinya. Tuhan masih menjaga 'hati' ku sehingga Dia memberiku rasa sakit ini. Dia tidak membiarkan hatiku terus menerus merasakan bahagia, yang pada akhirnya hanya akan membuat hati ini lemah.
Aku pernah merasakan sakit seperti ini sebelumya. Sakit. Tepatnya di kakiku, ketika aku berjalan menapakkan kaki mungilku di tanah, ketika langkah demi langkah kecil kaki mungilku menjadi sesuatu yg amat sangat menakjubkan dimata orang tuaku, ketika aku jatuh terjerembab berulang kali, ya, ketika aku kecil. Sakit. Rasanya seperti itu, tapi di tempat yg berbeda, bukan lagi di kaki, tapi di 'hati'

Ada hubungan apa antara sakit di kaki dan di hati?

Entahlah, aku sendiri juga tidak tau.
Tapi... Aku bisa belajar dari kedua rasa sakit itu. Ketika aku belajar berjalan, aku harus terjatuh, terguling, tersungkur, terjerembab dahulu sebelum aku bisa melangkahkan kakiku dengan mantap di permukaan bumi ini. Sakit memang, tapi dari rasa sakit itu aku bisa belajar, aku harus lebih berhati-hati ketika melangkah sebelum aku bisa melangkah dengan benar, dan ketika aku melangkah kembali setelah terjatuh aku harus lebih kuat dari sebelumnya, meski sakit tapi aku harus melanjutkan suatu proses yg sudah kumulai dan aku harus menyelesaikanya. Sakit memang, tapi peduli apa soal sakit, yg penting aku bisa berjalan dengan kokoh.

Sakit. Tuhan memberi rasa sakit untuk menunjukkan betapa indahnya menjadi tegar, menjadi kuat, menjadi tangguh.

Percayalah, dibalik rasa sakit itu, ada kekuatan yg luar biasa, yg membuat hati menjadi lebih kuat, lebih tahan banting dibanding sebelumnya, lebih kebal dibanding sebelumya.


"kenapa ada derita bila bahagia tercipta? karna derita menunjukkan betapa indahnya menjadi bahagia" (by: the man who loves sheila, 2012)

Selamat Bertambah Usia

April...
Bulan yang aku tunggu-tunggu sebenarnya, mungkin karena ada suatu hari dimana menjadi hari yang istimewa bagi orang yang istimewa buatku. Hari ulang tahun. Ada satu hari dimana hari itu bertepatan dengan hari ulang tahun seseorang. 24 tahun lalu dia lahir, dan tahun ini tanggal dimana dia lahir jatuh pada hari selasa.
Hari senin, aku ada kuliah hingga pukul 8 malam. Sepulang kuliah aku masih harus menyelesaikan beberapa tugas kuliah yang sudah mendekati deadline. Jadi yaa... mau tak mau harus kuselesaikan malam itu, eksplicitly, I have to go to bed lately again. Tapi memang sudah menjadi kebiasaan -yang sebenarnya buruk- tidur larut malam demi menyelesaikan tugas kuliah, beginilah mahasiswa. Sampai akhirnya jarum jam sudah menunjuk ke angka 11 lebih 15, sudah malam. tugas sudah selesai, tapi aku belum merasakan kantuk. Kulihat ponsel. Aha! sekitar 45 menit lagi sudah pergantian hari. Dan besok adalah ulang tahunnya. dan kuputuskan untuk tidak tidur hingga pergantian hari, sehingga aku bisa mengucapkan selamat ulang tahun padanya lebih awal. klasik dan terkesan berlebihan memang, seperti seorang abg yang sedang kasmaran. Tapi kupikir, ah tidak ada salahnya kan? Aku tidak bermaksud ingin jadi yang pertama mengucapkan, atau ingin mendapat tempat spesial. aku melihat profil facebooknya, sudah ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi aku tak akan mengucapkanya sekarang, lebih baik mengucapkan lewat sms terlebih dahulu.
Sudah jam 00 lebih sekian menit, aku mengetik rangkaian kata selamat ulang tahun yang cukup singkat di ponsel, segera kukirimkan ke nomornya. delivered. Pasti dia sudah tidur, jadi aku tidak menunggu balasan darinya. Setelah itu aku membuka profil facebooknya, kemudian menuliskan ucapan selamat ulang tahun di dinding facebooknya. cukup. dan aku pun bisa tertidur pulas malam itu.
Paginya... 
sehabis subuh, ponselku berbunyi, ada sms masuk. darinya. ucapan terimakasih, dan... di sms itu dia mengatakan aku yang pertama, orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. 
ya, terimakasih kembali. 
bukan suatu hal yang istimewa menjadi yang pertama, karna sebenarnya lebih istimewa ketika menjadi yang terakhir.

for the man at number 3, let me feel how fall in love does...

The Silent Al

Siang itu matahari bersinar cukup kuat, panasnya menyengat. Yul sedang menikmati es teh di beranda belakang rumahnya bersama adiknya, Nev. Ini hari minggu, waktunya Yul untuk bermalas-malasan setelah 6 hari sebelumnya tenaga dan pikiranya terkuras di tempat kerja. Sedang asyiknya bersantai, ibunya memanggil. Suara beliau menggema dari ruang tengah, semakin jelas, mendekat ke telinganya. Yul segera bergegas menghampiri sumber suara.
“Dicari temenmu itu lho, Yul.” Kata ibunya.
“Siapa bu?”
“Tuh liat aja.” Ibunya lalu melenggang ke dapur untuk membuatkan minum.
Yul melongok kearah teras, seorang laki-laki tengah duduk di kursi teras depan. Itu Fath, teman semasa SMA nya. Yul kaget. Segera dia merapikan penampilanya dan ke depan menemui Fath.
“Fath?” sapa Yul.
“Hai Yul. Sibuk?” Tanya Fath.
“Ah enggak kok, sesuatu banget kamu tiba-tiba dateng kesini Fath.”
Mereka pun mengobrol sedikit, obrolan khas anter teman setelah kurang lebih setahun tak bertemu. Menanyakan kabar, kegiatan sehari-hari, sampai menceritakan teman yang lain. Sampai akhirnya Fath mengutarakan sesuatu, tujuan utamanya.
“Kamu masih sering komunikasi sama Al, Yul?” Tanya Fath pada Yul, menanyakan tentang Al, teman mereka, sekaligus mantan kekasih Fath.
“Heemh...” Yul menghela napas.
“Kenapa Yul?”
“Itu yang aku gak ngerti. Semenjak akun fb nya nggak aktif, twitternya dihapus, Al jadi misterius. Disms jarang bales, ditelpon nggak diangkat, blog nya juga gak pernah diupdate.”
“Oh...”
“Kenapa, Fath?”
“Ternyata Al kaya gitu ya Yul.”
“Kaya gitu gimana?”
“Banyak banget yang dia rahasiain dari aku, Yul.”
“Rahasia?”
Dan Fath mulai bercerita panjang lebar mengenai kisahnya dengan Al, tentang beberapa hal yang disembunyikan Al dari Fath, dan akhirnya kini terbongkar.
“Dan kamu percaya sama semua itu, Fath?” Tanya Yul setelah Fath mengakhiri ceritanya.
“Yaaa...”
“Apa kamu juga tau Fath kalau Al itu suka kamu sejak SMA? Semenjak dia kenal kamu Fath?” Yul memutus pembicaraan Fath dan melontarkan pertanyaan yang membuat Fath tercengang.
“Bahkan sebelum aku kenal sama Al, Al udah suka sama kamu, dia perhatiin kamu, dia naksir kamu, Fath.” Lanjut Yul.
“Ah bull shit itu, Yul.” Fath menyangkal, padahal wajahnya sudah jelas memperlihatkan ketidak percayaan namun penuh Tanya.
“Kenapa kamu bilang gitu? Kamu gak percaya?”
“Apa aku kudu percaya?”
“Iya, harus percaya. Karna Al gak pernah bohong sama aku.”
“Tapi Al pernah bohong ke aku, Yul.”
“Tapi dia bohongin kamu semata-mata demi kebaikan kalian, Fath.”
Fath terdiam.
“Kalian kenal semenjak kelas 1 SMA kan? Karna kalian ikut ekskul yang sama, kalian saling kenal, smenjak itulah Al ada rasa ke kamu, Al punya perasaan khususn ke kamu, Al naksir kamu. Bahkan itu sebelum aku kenal yang namanya Al. Selama 3 tahun dia jatuh cinta diam-diam ke kamu, tanpa ada yang tahu kecuali dia dan Tuhan. Waktu kamu punya pacar, Al diam. Waktu kamu asik dengan dunia kamu, Al diam-diam ikut nikmatin. Sampai akhirnya kita lulus SMA, Al sedikit demi sedikit berani certain isi hatinya ke aku, dan semuanya tentang kamu. Dan kamu datang ke Al, masuk ke kehidupan Al lebih dalam. Kamu tau Fath, gimana bahagianya Al saat itu? Saat perasaanya terbalas? Mengharukan Fath. Selama 4 tahun dia diam, akhirnya itu gak sia-sia, yaaa meski akhirnya kalian harus pisah gara-gara Al sendiri...”
“Cukup Yul, itu udah dulu. Masa lalu.” Air muka Fath berubah, bimbang.
“Ya itu emang dulu. Tapi sekarang, kayanya masih sama Fath. Sekarang pun, aku yakin, Al masih sayang sama kamu.”
“Mana buktinya, Yul? Sayang macam apa kalau dia menghilang kaya gini? Lagi pula kami udah lama putus, itu udah berlalu dari 4 tahun lalu.”
“Memang nggak ada bukti. Setidaknya sampai detik terakhir Al ngubungi aku sebulan lalu, Al masih sempet bilang kalau dia masih sayang sama kamu. Dan masalah Al menghilang ini, aku rasa dia punya alasan, Fath.”
Fath makin kalut mendengar uraian Yul, tentang Al, mantan kekasihnya. Pikiranya kembali ke 4 tahun lalu, dimana dia mulai merasa ada yang beda pada perasaanya pada Al. Al yang perhatian padanya, Al yang ada ketika dia sedang dilema, Al yang sabar mendengar keluh kesahnya. Ah, Al... kenapa kisah mereka harus berakhir begitu saja, tanpa alasan yang jelas. Tanpa sadar, Fath meneteskan air matanya, di hadapan Yul, teman dekat Al.
“Al, dia pernah menjalin hubungan dengan orang lain setelah dia putus sama kamu, Fath. Tapi sia-sia, perasaanya ke kamu nggak bisa hilang, dia tersiksa sendiri. Klasik memang, masalah cinta sampai mendominasi hidupnya, kaya nggak ada hal yang lebih penting dari cinta. Tapi ya memang begitu realitanya...”
Fath membungkukkan badanya, menopangkan tanganya di lutut dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Masih menangis. Mungkin tidak pantas dipandang, dan mengagetkan jika melihat lelaki yang selalu Nampak tegar seperti Fath bisa lumpuh seketika mendengar ada perempuan menyimpan rasa padanya sebegitu lama, 9 tahun.
Hening. Yul tak bisa bicara apa-apa melihat Fath yang hanyut dalam dukanya, merasa kehilangan Al. Dan Al sekarang menghilang, tidak ada yang tahu keberadaan Al. Tak satupun dari mereka, juga teman-temannya.
***
4 hari setelah tragedy tangisan di teras rumah Yul, Fath datang kembali. Mencari Yul. Sejam yang lalu dia menerima pesan singkat dari Ind, teman akrab Al semasa kuliah. Dalam pesanya, Ind mengatakan bahwa Al sekarang di kampung halamanya, dia sedang dirawat di rumah sakit. Tapi Ind tidak menyebutkan penyakit apa yang diderita Al. Sontak Fath kaget membaca pesan itu, pulang dari tempat kerja, Fath menuju rumah Yul bermaksud mengabari Yul perihal Al.
“Kalo kita kesana gimana, Yul?” Fath bermaksud mengajak Yul mengunjungi Al di kotanya.
“Aku pikir emang sebaiknya gitu, Fath.” Yul setuju.
Hari itu juga mereka berangkat menuju kota tempat tinggal Al. Perjalanan ditempuh kurang lebih sekitar 3 jam dari kota tempat keduanya tinggal. Menjelang senja mereka memasuki kota. Berbekal informasi dari teman Al tentang rumah sakit tempat Al dirawat, mereka mengelilingi kota yang tak begitu asing bagi mereka, kota kelahiran Al. Dan mereka pun menemukan rumah sakit tempat Al dirawat. Setelah melewati beberapa lorong akhirnya mereka menemukan ruangan tempat Al dirawat. Tepat di depan kamar, ada seorang perempuan sebaya mereka, duduk termangu di kursi teras kamar. Itu Ind, teman akrab Al.
“Permisi, Mbak...” Sapa Fath.
Perempuan itu terhenyak dari lamunannya, sadar. Dan ia langsung berdiri manyambut kedatangan Fath dan Yul. Dia tahu, Itu Fath. Seperti yang sering digambarkan Al padanya, hitam manis, bermata tajam.
“Fath ya?” Ind memastikan.
“Oh iya, saya Fath.” Mereka pun bersalaman, saling mengenalkan diri. Begitu pula dengan Yul.
Fath dan Yul tak langsung masuk ke kamar, mereka berbincang sejenak dengan Ind.
“Baru semalam aku sampai disini, niatku pengen kasih kejutan buat Al. Nggak taunya, malah aku yang terkejut...” Ind membuka ceritanya, dia kemudian menceritakan sedikit hal tentang yang terjadi sebenarnya. Kenapa Al menghilang tiba-tiba dari beberapa teman lamanya.
“Jadiii.... itu sebab Al menghilang dari kami, Mbak?” Fath belum percaya.
“Kita boleh lihat Al kan?” Tanya Yul.
“Oh iya, silakan, ada Ibu Al di dalam.” Ind kemudian membukakan pintu kamar untuk Fath dan Yul.
Di dalam, Al terbujur lemah di ranjang, badanya kurus, matanya tertutup. Di sampingnya, Ibunya duduk dengan Al-Qur’an di tangan. Membacakan Ayat suci untuk anak semata wayangnya, Al. Menyadari kedatangan Fath dan Al, sang ibu kemudian menghentikan kegiatanya dan menyambut Fath dan Yul. Mereka berdua pun kemudian menyalami Ibu Al. Ini kedua kalinya Yul bertemu Ibu Al, tapi bagi Fath ini pertama kalinya. Sedikit berbasa-basi, Ibu ini Nampak sangat tegar menghadapi ujian ini. Fath dan Yul menghampiri ranjang Al. Mereka menatap sahabat karibnya ini dalam-dalam. Sedih.
“Al cuma tidur, tadi habis minum obat. Insyaallah, lusa Al menjalani operasi...”
“Lusa tante?” Fath memastikan.
“Iya, Nak Fath. Yah semoga operasinya lancar ya, dan Al sehat kembali. Doakan ya nak...” pinta Ibu Al.
“Iya Tante, kami harap juga begitu.” Tandas Yul.
“Yah, kalian kan teman dekatnya Al, pasti Al juga sudah cerita tentang sakitnya pada kalian. Kalian pasti tahu kan bagaimana kebiasaan Al waktu kuliah dulu? Bandel kalau disuruh jaga kondisi badan, keluar-masuk rumah sakit dengan kasus yang itu-itu saja, pasti masalah pencernaan. Yang infeksi lambung lah, infeksi usus. Rasanya tiap semester pasti Al masuk rumah sakit karna itu. Tante sampai mau pindahin kuliah Al ke dekat-dekat sini saja, biar dekat dengan tante, biar ada yang mengontrol, biar Al gak sembarangan. Tapi Al tetap bertahan disana, sampai dia lulus, dan keinginannya untuk mengajar di sekolah kejuruan tercapai. Tante senang sekali, Al kembali ke kota ini, berkumpul sama tante lagi. Tapii... malah begini yang terjadi, padahal kebiasaan buruknya sudah berkurang karna dibawah pengawasan om sama tante. Tapi ternyata sekarang justru kanker yang menyerangnya....” ibu Al bercerita panjang lebar mengenai putri satu-satunya itu. Beliau membelai rambut Al, menatapnya tegar. Fath tercengang melihatnya, di benaknya berkelebatan bayangan-bayangan 5 tahun lalu, dimana saat dia menjalin hubungan dengan Al. Al tidak membalas pesanya sama sekali, menghilang begitu saja, dan dia mulai kesal pada Al. Tanpa dia tahu ternyata Al sedang sakit dan dirawat di rumah sakit kala itu. Betapa menyesalnya dia menyalahkan Al yang menghilang begitu saja tanpa kabar.
Setelah bercerita, Ibu Al pergi keluar kamar bersama Ind. Kini tinggal Fath dan Yul yang bersama Al dikamar. Yul menangis melihat sahabat kentalnya kini terbaring lemah di ranjang, pucat. Terakhir kali mereka bertemu tahun lalu, di pernikahan salah satu teman mereka, waktu itu Al baru saja diwisuda, dia Nampak sehat dan ceria sekali. Setelah itu Al kembali ke kotanya, bekerja sebagai guru di sekolah keguruan, selama itu mereka masih saling berhubungan, entah lewat sms, telepon, jejaring sosial. Hingga sampai akhirnya sebulan yang lalu, semua akun jejaring sosial Al telah tidak aktif, no.ponselnya pun diganti, tidak bisa dihubungi, Yul kehilangan kontak dengan Al. Dan ternyata ini yang terjadi pada Al. Yul tidak bisa berkata apa-apa, takut tangisanya terdengar Al yang sedang tidur, akhirnya dia keluar. Meninggalkan Fath dan Al berdua.
Hening, Fath termenung memandangi keadaan Al. Ia mencoba berbicara lirik kepada Al yang sedang tidur, entah Al bisa mendengarnya atau tidak.
“Al... “
Fath memanggil Al lirih. Al tak bergerak.
“Al... kenapa sih kamu sediam itu? Apa aku terlalu menakutkan buat kamu? Sampai kamu diam sebegitu lamanya, harus nunggu sampai aku yang mulai...” Fath mengungkit masa lalu.
“Al, aku heran sama kamu, kamu kuat banget diem segitu lamanya, falling in love in silent. Kamu tuh lucu tau nggak, 4 tahun diem gak berkutik sama sekali, untung aku punya rasa yang sama kaya kamu, jadi aku yang mulai buka perasaan, kalo nggak? Gimana jadinya ya, Al? Apa kamu bakal diem selamanya? Al... Al... status kita emang udah berakhir dari 5 tahun lalu, tapi tau nggak Al? Perasaanku nggak lho, masih ada sampai sekarang. Klasik ya Al, ngapain aku ngomong ini ke kamu? Hiperbol. Tapi biarin deh, sekali-sekali hidup juga boleh disetting kaya film, dramatis.”
Kemudian hening. Al masih diam tak bergerak, tapi hembusan nafasnya terasa. Fath memberanikan diri memegang tangan Al.
“Sekarang, kamu gak bisa lari lagi Al. Yul udah cerita semua tentang kamu... semuanya. Dan itu kejutan buat aku. Kemanapun kamu menghilang, kamu kabur, aku pasti bisa nemuin kamu Al. Jangan ngilang lagi ya... janji sama aku ya Al, setelah kamu operasi, kamu pulih, dan kamu sehat lagi, kamu nggak akan diem kaya yang dulu-dulu. Bilang Al, bilang apa yang kamu rasain. Ya Al? Kamu mau kan?” Fath menggenggam tangan Al makin erat. Sekuat-kuatnya Fath menahan diri untuk tidak menangis, akirnya dia tumbang juga. Fath terisak, di hadapan perempuan yang diam-diam masih ia harapkan untuk mengisi ruang hatinya kembali.
Fath mencoba melepas genggamanya di tangan Al, tapi sontak ia terkejut, tangan kurus itu yang kini menggeggamnya, menahan tangannya untuk tidak terlepas. Al terbangun, matanya terbuka, pipinya telah basah oleh air mata.
“Al...” Fath terkejut, haru melihat Al.
“Fath...” Al terisak. Suaranya lemah.
“Kamu bangun, Al?”
Al tersenyum. Pucat.
“Aku denger, Fath....” kata Al lemah.
“Jadi, kamu tadi...”
Al mengangguk, kemudian tersenyum. Senyumnya masih sama dengan senyum yang dilihat Fath setahun lalu.
“Iya, aku denger semuanya, semua yang kamu bilang barusan, Fath.”
Fath pun tersenyum.
“Maafin aku ya, Fath...”
“Nggak ada yang perlu dimintakan maaf, Al...”
“Tapii...”
“Heemh... ya mungkin akhir yang kita hadapi kemarin nggak sesuai harapan. Tapi, sekarang semua udah jelas kan? Kita bisa memulainya lagi Al, kita masih punya waktu untuk membuat akhir yang lebih baik, ya kan Al?”
Al mengangguk mantap. Senyum yang dirindukan Fath selama ini bisa dia lihat lagi.
***
Satu bulan pasca operasi. Al masih harus menjalani bermacam terapi dan masih harus check up kerumah sakit beberapa kali. Kondisinya sudah mulai membaik, meski belum bisa dikatakan sehat. Setidaknya dia sudah tidak lagi menghabiskan waktunya di ranjang rumah sakit. Dan kini, ada Fath yang tiap akhir minggu mengunjunginya, menemaninya menjalani terapi, menemaninya jalan-jalan, motivator baru untuk Al. Terkadang Yul juga ikut datang bersama Fath, namun tidak setiap minggu seperti Fath. Ayah dan Ibu Al sangat terbantu dengan kehadiran Fath. Calon anak laki-laki mereka.


The Man who Loves Sheila

Malem itu hujan, gak deres sih, yaaa bisa dikategorikan standard. Aku lagi di kamar, ngutak atik tamtam ditemeni nita yang senyam senyum sendiri baca manusia setengah salmonya Raditya Dika. Hape bergetar *fyi, aku jarang banget aktifin hp pake ringtone, selalu dimana pun berada pasti aku silent* ada sms, dari temenku, sebut saja Ayud. Kmarin pas aku pulkam, ayud pesen makanan khas dari kotaku, kota asal ibunya. Pacitan. Nah pas siangnya aku bilang kalo salenya nunggu buat dia ambil ke kosan. Dan yaa, dia bakal ambil ntar ntar an gitu.
Dan ya, saat asik ngobrol-ngobrol sama nita, ada sms masuk, dari ayud. Dia bilang, dia meluncur ke kosanku. What?! Ujan-ujan begini? Yakin? Padahal ujanya bukan sekedar gerimis lho, meski gak deres, tapi kalo naik motor dari kontrakanya ke kosanku tanpa mantel pasti basah kuyup ini. Tapi... tak lama kemudian... ada sms masuk “hoe, mbak... sudah nok depan” itu bunyi sms ayud. Beeeh ni bocah, beneran. Dan aku oun meluncur ke halaman kosan dengan kantong berisi makanan di tangan kananku, khusus untuk Ayud, free. Haha.
Dan bener, sampe di depan warungnya buk kost, ada Ayud disana, berdiri menggigil, jaketnya basah. Ndlohookk, uda tau ujan begini, Cuma pake helm sama jaket doank, celananya pendek pula. Kebal loe? Transaksi berjalan. Beberapa waktu lalu aku minta soft copy j dorama yang didownload Ayud, dan malem itu dia bawain tuh filenya. Jreng! Aku kasih oleh-olehnya ke Ayud, dan Ayud ngasih flash disk ke aku.  Transaksi pun berakhir. Ayud bilang dia mau ke kampus, ngurusin KRS online. Gilaaa... badan basah kuyup begitu lho. Dassar cowok. Kuat ya?
***
Hemh, Ayud.
Aku kenal tuh bocah semenjak awal-awal kuliah, semester 2 mungkin. Lupa tepatnya kapan. Yang aku inget, waktu itu ada sms dari nomor gak dikenal, isinya sms nasehat-nasehat gitu kalo gak salah. Waktu itu liburan semester, aku lagi di kampung halaman. Dan aku yang waktu itu masih ababil, mau aja nanggepin sms kaya begitu, aku bales aja. Dan tau apa jawabanya? Seingetku alesanya itu salah orang, kalo gak salah kirim, pokoknya kalo dipikir ya gak penting. Kaya anak-anak abg pada umumnya yg pengen nyari kenalan gitu. Dan aku lupa gimana selanjutnya, yang jelas usut punya usut ternyata Ayud itu temen SMA nya temen kuliahku, dia dapet nomor hp ku dari dia. Dan kita ngobrol-ngobrol, smsan, facebookan, gitu-gitu lah. Berteman intinya. Setelah kenal, ya akirnya aku tau, Ayud punya darah Pacitan. Ibunya asli Pacitan, Lorok tepatnya. Jadi keluarganya banyak yang di Pacitan, dia juga pasti mudik ke Pacitan setahun sekali. Dari sms dan facebook, kita jadi tahu, kita ini SheilaGank, ya, kita penggemarnya Sheila on 7. Dan dari dorama Boku Dake No Madonna, aku jadi tahu, Ayud doyan nonton Dorama. Begitu pula aku. Aku penggemar Dorama. Kita sering smsan, tapi jangan bayangin kita smsan kaya abg-abg labil sama temen smsanya lho. Kita sharing sesuatu. Banyak hal, dari yang masalah harian, sampe masalah hati. Seru. Aku nyambung sama Ayud. Sampe sekarang. Pertama ketemu Ayud juga gak kaya kisah-kisah pada umumnya. Gak ada janjian, gak ada rencana, waktu itu aku bawa banyak oleh-oleh dari rumah. Dan aku tawarin ke Ayud. Kita deal. Dia ambil ke kosan, itu pertemuan pertamaku sama Ayud. Sampe sekarang, kayanya juga gak pernah ada tuh acara ketemu-ketemu yang direncanakan. Sampe sekarang kita ketemunya juga kalo ada perlu, ngasih oleh-oleh ato apa gitu.
Aku blajar banyak dari Ayud. Secara gak langsung. Dari sms-smsnya, status-statusnya di facebook, tulisan-tulisanya di facebook. Ayud itu... gimana ya? Mempesona lah. Menurutku dia punya sesuatu. Sering dia memikirkan hal yang beda, diluar pemikiranku. Tampil beda. Dia teman sharing yang baik, teman cerita yang asik. Semua yg dia bilang, aku rasa bisa diterima dengan baik. Simple. Dia gak neko-neko. Keinginan-keinginanya sederhana. Tapi bermakna. Well, aku bukan teman akrabnya, bukan sahabat kentalnya, kenal Ayud juga sekedar kaya begini. Aku bisa dibilang gak ngerti gimana Ayud. Tapi Ayud uda bikin hidupku beda. Selama mengenalnya, aku perhatiin Ayud itu sangat-sangat menghargai perempuan. Dia baik ke siapa aja. Ayud bukan cowok tipe-tipe ‘pacaran’ tapi dia amat mengerti cewek. Easy going, kritis, objective. Dan tentu saja dia punya sisi gila seorang cowok. That’s Ayud. Dua kata khusus untuk Ayud: Baik Hati.

From Papuma with Stories

Saturday, February 4th 2012
hei, This is the man of the day
Isnani, the leader of KPMP Goes to School 2012

and you know what?? there is something between I'is and Maniz puus... watch it out...
it seems that there is something have disturbed his mind, he is in "Galau" :D
 hey! look at this, there is a provocator... oh, it must be danger...
but, it doesn't mind. everything's is ok... it must be happy ending... :)



*note:
pembaca dilarang berprasangka yang macam-macam, apabila ada kesamaan nama, karakter, wajah, baju, penampilan, percayalah... ini hanya trik belaka.

About this blog

happy reading

Total Pageviews

Followers

About Me

Foto Saya
dianpra
Writing for Pleasure
Lihat profil lengkapku

thanks for visiting